Wednesday, 31 May 2017

Cerpen : Mimpi

MIMPI
KARYA TAUFIK MUHAMAD Y

Mimpi, semua orang di dunia ini pasti mempunyai mimpi, namun ada yang bangun dan berusaha mengejar mimpinya hingga dia bisa mewujudkannya, ada juga yang hanya bermimpi dalam tidurnya tanpa mau berusaha.
Mentari mengintip di celah-celah rumahku yang terbuat dari bambu. Sebenarnya rumah sederhana ini bukan milikku, tetapi milik Kakek dan Nenekku. Lalu kemana kedua orang tuaku ? Ayahku meninggal ketika aku berusia 6 tahun, hal ini membuat ibuku membuat sebuah keputusan yang sangat menentukan, keputusan yang membuat hatinya berperang, hingga akhirnya tekad ibuku sudah bulat, dan keputusan itu terlontar dari bibirnya yang merah karena diselimuti pembuluh darah. Ibuku memutuskan untuk menjadi pahlawan, pahlawan devisa bagi negara, sekaligus pahlawan berhati intan bagi keluarga, teruatama bagi diriku anak semata wayangnya.
Almarhum ayahku adalah seorang pelaut, belialulah yang mengajarkanku bagaimana menaklukan ombak kehidupan yang ganas, melawan badai yang menerjang dengan tekad dan semangat seorang pejuang, dan ayahkupun mengajarkanku tentang butiran berlian di langit gelap yang menari dengan harmoni sehingga membentuk pola yang indah, itulah yang kita kenal sebagai rasi bintang.
Oh ya, perkenalkan namaku Muhammad Ayyas, aku adalah pemuda sederhana yang mempunyai banyak mimpi dan cita-cita, walaupun aku selalu bertanya bagaimana cara aku untuk mewujudkan semuanya. Sejak waktu membuatku tak bisa bersama dengan ayah dan ibuku, kini aku tinggal bersama kakek dan nenekku. Merekalah yang membuatku seperti ini, tak lupa bantuan dari ibuku yang mengais rezeki di negeri Jerman. Hingga akhirnya aku bisa merasakan pendidikan di tingkat sekolah menengah atas. Mencapai ini semua tak semudah membalikan telapak tangan, aku harus berjalan setapak demi setapak untuk mencapai puncak. Karena nyaris saja aku tak bisa melanjutkan sekolahku karena lagi-lagi faktor ekonomi yang tak mengizinkan. Tapi ternyata Allah mempunyai rencana yang indah, hingga aku bisa mengenal masa-masa putih abu yang penuh cerita dan mebuatku jatuh cinta pada ilmu yang bernama astronomi yang mengantarkanku pada masa keemasanku.
Rembulan mulai menampakkan diri, menjadi sumber cahaya di tengah kegelapan malam yang menenangkan, ditemani miliaran bintang yang berlari-lari membentuk sebuah konstelasi. Mereka siap menjadi saksi akan semua mimpi-mimpiku. Hingga bintang jatuh pun yang sebenarnya hanyalah meteor yang ingin menghampiri bumi pun ikut menghantarkan mimpi ini tuk disampaikan pada Illahi Rabbi. Inilah kebiasaanku saat malam hari, menikmati maha karya Allah yang tiada tertandingi, sembari merangkai kenanganku bersama ayah yang selalu mengajarkanku pengetahuan mengenai bintang-bintang. Tak jarang nenekku selalu marah, karena aku terlalu asyik bercengkrama dengan malam.
“Ayyas ! Cepat masuk ke dalama rumah, ini sudah malam, cepat tidur nak !” tegur nenek dengan lirih.
“Iya Nek, sebentar lagi Ayyas masuk, Ayyas sedang mencari Deneb, Vega, dan Altair. Hari ini mereka membentuk segitiga musim panas Nek,” jawabku karena ingin mengulur waktu.
Oh ya, mimpi terbesarku kali ini cukup sederhana, aku hanya ingin bertemu dengan permata hati yang sudah lama pergi ke negeri tempat berdirinya Nazi hanya untuk mencari rezeki.Tapi bagaimana caraku untuk mewujudkannya, rasanya mustahil bagi pemuda sepertiku untuk pergi ke sana. Jangankan untuk membeli tiket pesawat, untuk pergi ke sekolah saja terkadang aku harus berjalan kaki. Tapi aku tetap yakin, kalau Allah mengizinkanku pasti aku bisa bertemu dengan ibu. Aku percaya Allah telah menyiapkan rencana yang sangat indah yang entah kapan terjadinya.
Masa SMA membawaku pada sebuah kompetisi yang dikenal dengan Olimpiade Sains Nasional. Hati dan pikiran ini bercampur aduk bagaikan larutan kimia yang dicampurkan dan menghasilkan sebuah ledakan ketika aku tahu bahwa sekolah menunjukku sebagai perwakilan pada bidang Astronomi.
“Yas, bulan depan akan ada OSN , nah kamu mau ya kalau menjadi perwakilan sekolah kita di bidang astronomi,” sahut Pak Arif guru fisikaku, karena memang di SMA tidak ada  matapelajaran astronomi.
Seketika aku mematung seolah ada gravitasi yang mencengkramku dengan sangat kuat. Otakku berputar dengan hebat memikirkan jawaban dari pertanyaan Pak Arif. Namun setelah lama hati dan pikiran ini berdebat akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba.
“Baik Pak, Insyaallah saya siap, mohon bimbingannya ya Pak,” kata-kata itu terucap dari bibirku yang kaku begitu saja.
Teman-temanku bertambah banyak, selain indahnya langit malam kini hadir tumpukan buku serta kalkulator yang selalu setia menemainku. Tak lupa juga Raka dan Aufa, mereka dua orang sahabat yang selalu memberiku semangat, ya mereka juga perwakilan sekolah di ajang OSN ini, Raka di bidang kebumian dan aufa di bidang fisika. Tak jarang kami pun sering belajar sampai malam di sekolah. Menghabiskan waktu bersama, sambil bercerita, dan tak jarang kamipun sering dihantui perasaan yang sama, ya takut akan kegagalan.
Hari terlalu cepat berlari seakan ingin memburuku untuk meraih mimpiku ini. Semangatku semakin memuncak setelah aku tahu bahwa ternyata peraih juara di ajang olimpiade ini akan menjadi perwakilan Indonesia di olimpiade internasional. Dan kejutan terus berlanjut karena ternyata untuk International Olympiad on Astronomy and Astrophysic (IOAA) atau olimpiade internasional bidang astronomi dan astrofisika tahun depan diselenggarakan di negeri panzer Jerman. Betapa bahagianya aku bagaikan terbang menembus atmosfer bumi, karena mungkin saja di ajang ini aku bisa bertemu ibu.
“Ayyas, kamu pasti bisa ! Tidak ada yang mustahil di dunia ini dan ingat kamu harus tetap ikhtiar dan tawakal untuk mewujudkan mimpimu itu !” tekadku dalam hati.
Sepertinya sang waktu terlalu cepat tuk berlalu, hingga akhirnya hariku untuk berjuang di medan perangpun tiba. Hari ini ku kumpulkan tekad dan semangat untuk menaklukan rangkaian soal-soal yang sudah panitia persiapkan. Tak lupa aku meminta restu pada kakek dan nenek agar selalu mendoakan cucunya ini yang penuh harap. Hari ini aku siap berhadapan dengan berbagai tes yang akan dilaksanakan. Mulai dari tes teori yang berisikan rangkaian kata dan angka hingga tes observasi yang akan mempertemukanku dengan sahabatku bintang-bintang dan langit malam.
Tes observasi pun dimulai, disini aku dihadapkan dengan soal sebanyak 30 buah dengan waktu 3 jam. Walaupun tes teori ini tidak mudah untuk dikalahkan tapi aku tetap berusaha untuk menjawab semuanya, hingga akhirnya tes teori pun selesai. Tes selanjutnya adalah tes observasi yang dilakukan di lapangan. Aku diminta untuk menunjukkan rasi-rasi bintang yang sudah akrab denganku, seperti Orion sang pemburu, Crux rasi layang-layang penunjuk arah selatan, Scorpius si kalajengking, dan masih banyak lagi. Hingga akhirnya rangkaian tes pun telah selesai dilaksanakan. Dan aku hanya tinggal menunggu pengumuman yang sangat menetukan, hasil dari olimpiade ini akan diumumkan secara online sekitar 2 minggu yang akan datang.
Jarum jam terus berotasi hingga akhirnya hari yang menentukan itu tiba. Aku meminta Raka untuk membuka hasil tersebut di suatu situs web yang sudah ditentukan, dengan alasan aku terlalu takut untuk melihat hasilnya sendiri dan akupun tidak punya komputer atau handphone untuk mengakses pengumumannya. Esoknya Raka memberitahuku mengenai hasilnya. Saat itulah gelombang bunyi yang dihasilkan Raka terpantul berulang kali dalam sebuah mekanisme pendengaran milikku, menjalar melewati saluran telinga, bergetar hebat di Membran Timpani, diterima oleh Tulang Sanggurdi, dijamu oleh suatu saluran bernama Kanalis Semisirkularis dan diperbolehkan masuk oleh pusat sistem syaraf yang bernama cukup singkat : otak. Ya, aku dinyatakan menjuarai olimpiade ini dan mendapatkan medali emas. Seketika tubuhku terpaku dan bergetar hebat bagaikan lempengan hati dan pikiran yang sedang bertabrakan menghasilkan gempa yang dahsyat.
Aku sangat bersyukur pada Allah, karena tak disangka akhirnya keringat dan tangis ini pun berbuah manis. Semua ini menjadi gerbang untuk menggapai mimpi yang selanjutnya, pergi ke Benua Eropa ke negara dimana Gerbang Brandenburg berdiri dengan megahnya, berharap untuk bertemu ibu dan membawa medali untuk negeri diajang IOAA.
Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu dan menghampiri perasaan ku saat ini. Aku berbicara pada kakek dan nenek dan meminta restu pada mereka untuk pergi perjuang ke negeri Jerman, sembari menanyakan dimana alamat ibuku bekerja. Aku tak tega meninggalkan kakek dan nenekku sendiri, namun mereka mendukungku dan mendoakanku sehingga aku bisa berangkat dengan lega.
“Nek, Kek, Alhamdulillah Ayyas diberi kesempatan sama Allah untuk ikut olimpiade astronomi internasional di Jerman. Siapa tahu Ayyas juga bisa ketemu sama ibu disana, Ayyas minta doa restu dari Kakek sama Nenek,” ucapku lirih.
“Alhamdulillah, Ayyas, Kakek dan Nenek pasti mendukung Ayyas dan mendoakan yang terbaik buat Ayyas, Kakek mengizinkan Ayyas untuk pergi ke Jerman sana,” jawab kakek sambil menepuk punggungku.
“Iya Ayyas, jaga dirimu baik-baik ya Nak, Kakek dan Nenek bangga sama kamu, harumkanlah negerimu ini, semoga disana kamu bisa bertemu ibumu juga, Aamiin,” jawab nenek dengan mata yang berkaca-kaca.
Sebulan berlalu, tiba saatnya aku pergi sejenak meninggalkan tanah air tercinta, kini aku harus mengangkasa menembus awan, menaklukan perbedaan waktu dan kebudayaan, dan beradaptasi dengan negeri yang menjuarai piala dunia 2014 ini. Tahun ini IOAA diselenggarakan di kota yang dulunya menjadi ibu kota negara Jerman sebelum akhirnya digantikan oleh Berlin. Kota Bonn tepatnya. Perjalanan kurang lebih memakan waktu 14 jam. Hingga akhirnya aku dan kontingen Indonesia mendarat di Flughafen Düsseldorf1 (Bandara Dusseldorf) yang merupakan bandara terbesar di negara bagian North Rhine-Westphalia, Jerman sekaligus menjadi bandara terbesar ketiga di negara ini.
Tulisan Willkommen in Deutschland2 yang berarti selamat datang di Jerman terpampang jelas di Bonn Hotel yang menjadi tempat penginapan para peserta IOAA dari berbagai belahan dunia. Tata kota yang khas dengan ditemani musik klasik karya Ludwig van Beethoven yang lahir di kota ini pun membuatku sadar bahwa aku benar-benar berada di Eropa. IOAA tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak jauh berbeda dengan rangkaian tes saat olimpiade di Indonesia, yang membuat ajang ini berbeda mungkin hanya bahasa dan tingkat kesulitan yang semakin tinggi. Sekarang aku harus istirahat, karena besok pagi acara pembukaan akan dilaksanakan.
Perlahan matahari mulai menembus cakrawala benua Eropa. Memberi gradasi warna yang cantik di tengah-tengah Kota Bonn yang manis dan unik. Acara pembukaan hari ini berlangsung dengan lancar dan meriah. Kami disambut dengan Tarian Walz yang diperagakan oleh wanita Jerman yang anggun dengan pakaian Dindrl3 dan laki-laki Jerman yang gagah yang mengenakan Lederhosen4. Ditambah lagi dengan camilan khas Jerman Lebkuchen5 dan Pretzel6 yang merupakan kue khas Jerman memperlengkap acara pembukaan hari ini.
Esoknya acara yang menegangkan dimulai. Ronde teori akan dilaksanakan di Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn (Universitas Bonn). Dengan modal tekad dan semangat yang kuat aku siap menghadapi soal yang akan diujikan hari ini, walaupun rasa takut tak jarang menghampiriku. Alat tulis dengan setia menemaniku untuk berjuang, mereka menari-nari di atas secarik kertas penuh harapan, membentuk sebuah jawaban akan soal-soal yang diberikan. Tak terasa 4 jam waktu yang disediakan berlalu dengan cepatnya. Akhirnya ronde teori berhasil diselesaikan, disusul oleh ronde observasi yang menunggu. Ronde observasi akan dilaksanakan di  Bad Münstereifel karena disana terdapat teleskop radio Effelsberg yang memiliki diameter 100 meter. Teleskop ini dikelola oleh Max Planck Institute for Radio Astronomy. Pada ronde ini seperti biasa kita dituntut untuk menunjukkan benda-benda langit yang diminta. Ronde observasi ini masih menjadi favoritku jika dibanding dengan ronde teori. Akhirnya semua rangkaian tes selesai, kini aku harus kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok semua peserta diajak untuk berwisata.
“Alhamdulillah semua tes sudah selesai, ya Allah kuserahkan semuanya padamu, hamba telah melakukan apa yang hamba bisa semaksimal mungkin, karena hamba tahu olimpiade ini bukan semata-mata untuk medali, tapi untuk mendapat pengalaman dan meraih ridha-Mu,” pintaku dalam hati.
Hari ini mungkin adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua peserta, termasuk aku. Setelah menaklukan berbagai tes kini peserta akan berwisata ke tempat yang menarik di Bonn. Hari ini aku mengunjungi Museum Koenig yang merupakan museum zoologi yang berada di Bonn. Menyaksikan monumen Beethoven yang berdiri pada tanggal 12 Agustus 1845. Dan juga aku mengunjungi Deutsches Museum (Museum Jerman) yang merupakan museum ilmu pengetahuan dan teknologi terbesar di dunia. Hari ini merupakan hari yang paling menyenangkan yang pernah kualami. Impian seorang pemuda desa yang setiap harinya bermain ke sawah atau kebun kini bisa berwisata di Bonn, Jerman yang luar biasa.
“Ya Allah hari ini aku bersyukur atas segala nikmat yang kau beri,” ucapku dalam hati.
Besok merupakan hari yang paling menegangkan, dimana upacara penutupan sekaligus pengumuman dan pembagian medali akan dilaksanakan. Malam ini aku tidak bisa tidur, karena cemas dan takut besok hari aku mengecewakan negeriku sendiri. Aku pun belum sempat mencari ibu karena jadwal kegiatan yang memang benar benar padat.
“Ya Allah izinkan aku memberikan sesuatu bagi negeri ini, dan izinkaan aku bertemu dengan ibuku kembali, Aamiin,” pintaku sambil mencoba memejamkan mata.
Matahari mulai menyinari hari, membawa janji akan hari yang menentukan, dimana semua orang dari seluruh dunia memiliki tujuan yang sama untuk datang kesini dan menjadi pemenang. Upacara penutupan berlangsung meriah sama halnya dengan upacara pembukaan beberapa hari yang lalu. Tiba saatnya pembawa acara menyebutkan nama-nama peserta yang berhak dikalungi medali. Dimulai dari siapa saja yang mendapat perunggu namun nama Muhammad Ayyas tidak tersebut dari bibir pembawa acara yang fasih berbahasa Inggris dengan aksen bahasa Jermannya yang khas. Kemudian medali perak, 2 orang temanku dari Indonesia berhasil dikalungi medali perak, sedangkan namaku tetap tidak tersebut. Dan tiba saatnya aku mengetahui siapa saja pelajar terbaik di dunia dalam bidang astronomi yang berhak mendapatkan medali emas IOAA 2016. Hati ini terus berharap semoga namaku tersebut. Dan akhirnya benar saja, namaku disebutkan diurutan ketiga peraih medali emas IOAA dan mendapat penghargaan best observation yaitu penghargaan yang diberikan kepada orang dengan nilai tes observasi tertinggi. Tubuhku bergetar dengan hebat, aku tak mampu berdiri, dan mataku sudah mulai basah dan berkaca-kaca. Tak kusangka aku dikalungi sebuah medali emas yang menjadi mimpiku sejak dulu. Seakan semua perjuangan dan doaku terbayar sudah hingga akhirnya aku berhasil memberikan sesuatu pada negeri yang sangat kucintai.
Aku kembali ke timku, dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku terdiam membeku, sampai akhirnya ada seseorang yang memelukku dari belakang. Pelukan ini terasa berbeda, pelukan ini adalah pelukan kasih sayang dan cinta, pelukan ini menghangatkan jiwa yang masih tak percaya. Entah siapa yang memelukku dari belakang ini tapi entah kenapa pelukan ini membuat air mataku tak terbendung lagi sehingga menetes mebasahi tangannya. Hingga rangkaian kata terucap dari bibirnya.
“Nak Selamat ya, Ibu bangga sama kamu, Ibu minta maaf karena selama ini ibu tidak bisa menemani kamu hingga kamu bisa menjadi orang berhasil seperti ini.”
Seketika aku menoleh ke belakang dan memeluk dengan erat sosok wanita yang paling berjasa di hidupku seakan tidak mau untuk melepasnya lagi.
“Ibu...” Pelukku tanpa mampu berkata-kata lagi. Bibir ini terkunci, mata ini mengalirkan muara air surgawi yang tak bisa ditahan lagi, tangan ini tak mampu melepas ikatan cinta antara kami.
Akhirnya tangis itu berubah menjadi senyum bahagia, aku dan ibu melepas rindu lewat cerita. Ternyata pembinakulah yang membawa ibu hingga ibu bisa berdiri dihadapanku. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas hadiah terbesar hari ini. Akhirnya aku dapat meraih mimpiku untuk mendapat medali dan bertemu ibu yang sangat aku cintai. Ini merupakan hari teristimewa sekaligus hari terakhirku di Jerman, karena besok aku harus kembali lagi ke Indonesia, dan kabar baiknya ibu sudah tidak bekerja lagi disini, dan akan pulang bersamaku.
Sungguh waktu begitu cepat berlalu. Semburan kuning sang fajar mulai terlihat di atas horizon. Rasanya berat meninggalkan Bonn yang banyak memberi kejutan dan kenangan manis begitu saja. Tapi aku harus kembali ke negeriku, negeri yang membuat ini semua terjadi. Dan aku akan selalu mengabdi pada tanah airku Indonesia, dan mewujudkan mimpi-mimpiku selanjutnya untuk membangun negaraku agar negaraku maju seperti negara-negara di benua Eropa ini.
Rasanya Adolf Hitler melarangku pergi, alunan musik klasik Beethoven merayuku tuk tinggal disini. Kota Bonn yang cantik memberiku kepingan memori manis semanis kue Pretzel. Gerbang Brandenburg memberiku tekad dan semangat yang kuat. Tapi janji dan baktiku pada Indonesia tak dapat dibeli, dan kini ku harus kembali. Selamat tinggal Jerman. Auf Wiedersehen7.
Semua orang adalah pemimpi. Mereka melihat segalanya bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa dari kita membiarkan suatu impian mati, namun yang lain memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka yang selalu berharap impiannya akan menjadi nyata. Karena masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka. Dan kesuksesan itu berawal dari mimpi yang dilanjutkan dengan ikhtiar dan tawakal tiada henti.

1 Bandara Dusseldorf
2 Selamat Datang di Jerman
3 Pakaian Jerman untuk perempuan
4 Pakaian Jerman untuk laki-laki
5 dan 6 Kue manis khas Jerman

7 Ucapan selamat tinggal dalam bahasa Jerman

P.S : Cerpen ini saya buat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia saat kelas 11, jadi maaf kalau banyak kekurangan hehe 😅

Related Articles

0 comments:

Post a Comment